Selasa, 18 Februari 2025

Dalam Gurat Pena Daring

 

Dalam Gurat Pena Daring (27 Tahun 8 Bulan 4 Hari)

 

Dalam gurat pena daring, aku menanti sesuatu yang entah akan berakhir seperti apa. Aku menanti sesuatu yang awang-awang. Melayang dalam ketidakjelasan. Aku berjalan penuh kekhawatiran, sebab jalan-jalan hidupku berliku dan berbayang. Aku tak tahu apa yang akan menjadi jalanku di depan, awan-awan itu terlalu pekat, terlalu gelap. Menelusuri jalan dengan sisa-sisa cahaya, cahaya yang redup dan sesekali mati, membuatku terpaksa berhenti. Bukan, bukan berhenti dalam arti selesai.. hanya terpaksa beristirahat dengan kekacauan. Istirahat yang justru menimbulkan ketegangan. Bagaimana tidak? Aku dipaksa berhenti ditengah hutan suram, gelap, dan hanya bisa berdiam diri disana, aku hanya diberi “udara” tanpa makan dan minum. Bukankah lebih baik aku berakhir?

 

Hutan suram ini mulai bersuara, aku tidak dapat lagi memilih suara mana yang ingin aku dengar dan tidak. Semua suara masuk serentak menyebabkan kebisingan. Bahkan aku sudah memilih untuk membuka kaca sedikit, mematikan mesin mobil, bensin mulai berkurang. Mobil berhenti terlalu lama , namun aku biarkan dalam keadaan tetap menyala (alih-alih pemberhentian ini hanya akan sebentar), perkiraanku salah.

 

Suara daun bergesekan pun dapat aku dengarkan, mungkin sebentar lagi aku dapat mendengarkan suara semut-semut rangrang yang berbicara, bertambah kemampuan pendengaranku. Namun ada yang aku khawatirkan, bagaimana dengan kemampuan bicaraku? Apakah akan baik-baik saja setelah lama tak aku gunakan? Tak ada yang bisa aku ajak bicara, berbagi. Aku hanya kepusingan didalam hutan tak berpenghuni... ya maksudku.. tak dihuni manusia, hanya hewan-hewan liar dan buas yang aku tak juga mengerti bahasa mereka, pura-pura mengerti?

 

Kekhawatiran kedua, apakah sense ku sebagai manusia akan ikut hilang seraya menghilangnya kemampuan bicaraku? Apakah aku masih bisa ‘merasakan’ adanya percobaan orang lain yang ingin membantuku? Apakah aku masih bisa ‘memberikan’ pertolongan kepada orang lain? Apakah aku masih memiliki kemampuan, dimampukan, untuk membantu sedang aku disini masih kebingungan untuk membantu diriku sendiri?

 

Kekhawatiran ketiga, apakah ada yang menyadari ketidakberadaanku? Apa benar aku boleh berharap ada yang kehilangan aku dan mencariku? Apa boleh aku berharap ada yang mengusahakan keselamatanku diluar hutan ini? Hutan ini terlalu gelap, semua yang aku lakukan seakan sia-sia. Aku hanya menunggu dengan penuh harap, uluran tangan yang dapat membawaku pergi dari sini. Bahkan meskipun kemungkinannya terlalu kecil, aku teramat sangat berharap.

 

... sebelum akhirnya ...

... sampai pada akhirnya ...

Selasa, 24 Desember 2024

Jatuh Cinta dan Pernikahan

 Jatuh Cinta dan Pernikahan (27 Tahun 6 bulan 1 Minggu 4 Hari)

 

Salah satu hal yang aku pelajari setelah mencintai di usia dewasa adalah, kita seringkali tidak diberi kesempatan untuk mencintai dengan dasar rasa. Perasaan seakan-akan tidak lagi murni. Banyak pertimbangan dalam mencintai. Rasa tidak lagi menjadi nomor satu dalam perasaan. Mencintai di masa dewasa terlalu berat, seakan tidak cukup hanya dengan rasa berbalas. Logika kerap ikut andil dalam realisasi rasa suka. Mungkin ini lebih banyak dialami oleh orang-orang yang jatuh cinta untuk tujuan menikah.

 

Dahulu aku seringkali bertanya-tanya, bagaimana bisa orang menikah tanpa ada rasa cinta? Tanpa rasa suka? Bagaimana bisa menjalani rumah tangga tanpa itu semua? Ternyata memang pertimbangan lain lebih banyak daripada rasa itu sendiri. Ada yang menikah karena memang satu bidang pekerjaan, secara komunikasi lebih nyambung. Ada yang menikah karena sudah lama berteman, yang setelah dipikir ‘Oh, ternyata boleh juga menikah sama kamu, asik juga kita udah kenal lama.’. Ada pula yang menikah karena kepentingan lain yang ternyata saling terkait. Apapun alasannya, cinta tidak jadi dasar utama.

 

Apakah ada yang menikah karena dasar cinta? Tentu ada. Hal ini berkemungkinan terjadi karena boleh jadi mereka sudah saling jatuh cinta, lalu secara pertimbangan dalam banyak aspek masuk, menikahlah. Ada, tapi tidak banyak. Dalam kesendirianku saat ini, aku pun masih menduga-duga pernikahan seperti apa yang akan aku jalankan, karena sepengetahuanku selain semua pertimbangan, ada pula toleransi terhadap kelebihan/kekurangan maupun keadaan masing-masing pihak. Cinta tidak lagi murni dan tak beralasan. Cinta seperti sebab akibat. Cinta dapat memberikan sebab, dapat pula karena suatu akibat. Seakan-akan semua hal yang dilakukan oleh orang dewasa selalu berkaitan dengan rasa tanggung jawab. Tidak bisa lagi sebatas suka seperti di masa sekolah, saling suka lalu pacaran, pergi ke tempat baru, nonton film/konser musik kesukaan. Semuanya seperti dituntut untuk bertanggung jawab.

 

Tidak bisa bersatu karena satu dan lain hal, keadaan memaksa perpisahan atau bahkan jarak, waktu yang tidak mengizinkan untuk bersama sama sekali adalah mimpi buruk. Sayangnya, salah satunya aku alami. Jika hanya mengikuti hati, jelas, aku menginginkan seseorang. Kalau bertanya hati tanpa pertimbangan keadaan, masa, orang lain, bahkan tanpa memikirkan apakah perasaan ini terbalas atau tidak, jelas aku menginginkan seseorang, namun apa daya. Aku mengaku kalah.

 

Dalam berbagai macam aspek aku kalah. Bahkan rasanya tidak ada yang dapat aku unggulkan. Dia pun sepertinya tidak menyadari ada perasaan yang tumbuh sepanjang masa yang kita habiskan bersama. Masa dimana saling bercerita, bertukar pikiran, saling berkeluh kesah, melakukan hobi bersama, saling marah karena sikap maupun sifat masing-masing, lalu kembali berkompromi. Saling melempar kasih (bagiku), meskipun baginya hanya sebatas perhatian yang dapat dilakukan kepada banyak orang. Secara batas-batas tertentu, entah waktu maupun jarak, aku jelas kalah telak.

 

Pada akhirnya aku memilih menunggu orang yang menginginkanku dengan setulus hatinya. Setidaknya jika perasaanku belum sebesar apa yang diberikan orang itu, aku bisa merasakan bahwa ternyata aku pantas, boleh dan layak untuk dicintai. Terlebih, tentunya.. dengan cara cinta orang dewasa. Mencintai dengan penuh pertimbangan dan kompromi. Cinta yang dibangun tidak hanya mengutamakan perasaan, melainkan logika.

Jumat, 09 September 2022

Tulisan Bermakna Ganda

Tulisan Bermakna Ganda (09 September 2022)

25 Tahun 3 Minggu 5 Hari

 

Hati-hati membaca hati, sebagaimana kamu harus membacanya dengan hati. Sebagaimana kamu harus lebih terbuka mengenai apa yang tersaji. Jangan biarkan ego maupun luka masa lalu membuatmu menilai semuanya general. Bahkan apa yang kau sajikan kepada orang lain, sering bermakna cembung, sesekali bermakna cembung, pernah juga bermakna datar. Semua tergantung bagaimana kamu melihat. Cermin apa yang digunakan, seberapa besar ruang yang digunakan, secerah apa intensitas pada cahaya tersebut.

 

Hati-hati membaca hati, sebagaimana kamu harus membacanya dengan hati. Cara pandang orang lain terhadap sebuah karya, terhadap sebuah tulisan, dapat dipengaruhi seberapa banyak buku yang ia baca. Secermat apa ia memilih bacaan, seteliti apa ia memilih video yang disajikan. Kamu tidak bisa memaksa orang lain untuk mengerti maksud dari satu dua kata yang kau rajut menjadi kalimat.

 

Hati-hati membaca hati, sebagaimana kamu harus membacanya dengan hati. Cara pandang orang lain terhadap sebuah ide, terhadap sebuah gagasan, dapat dipengaruhi seberapa banyak ia bertemu orang lain. Membagi pikiran dengan sesamanya dalam lintas usia. Membuka pikirannya untuk menerima ‘dunia baru’ milik orang lain. Kamu tidak bisa memaksa dirimu dengan garis liku kehidupan yang berbeda dengan yang dilewati orang lain untuk paham apa yang ingin disampaikan hanya dalam beberapa paragraf sahaja.

 

Hati-hati membaca hati, sebagaimana kamu harus membacanya dengan hati. Apa yang dituangkan olehmu, tentang kecintaan dan kesakitan yang terbentuk secara langsung maupun tidak langsung oleh orang lain, kamu tak bisa memeras hatinya untuk merasa hal yang sama. Kecintaanmu bagi orang yang membencimu akan terasa seperti luka. Kebencianmu bagi orang lain yang mencintaimu akan terasa seperti bunga. Semua tergantung bagimana mereka, tergantung sebagaimana mereka ingin menilai.

 

Hati-hati membaca hati, sebagaimana kamu harus membacanya dengan hati. Apa yang dituangkan oleh orang lain, tentang suka dan duka yang terbentuk secara langsung maupun tidak langsung olehmu, orang lain tak bisa memeras otakmu untuk berpikiran yang sama. Sukamu bagi orang menyiram cuka padamu terasa masam baginya. Dukamu bagi orang yang menyayangimu terasa berkali lipat sakitnya.

 

Hati-hati membaca hati, sebagaimana kamu harus membacanya dengan hati. Siapapun kamu yang membaca tulisanku hari ini, akan menimbulkan perasaan dan pemikiran yang berbeda dikemudian hari. Sebagaimana tiap suku yang seringkali kusatukan tanpa kehati-hatian, boleh jadi karena hati yang menyatukannya dalam keadaan cacat, dalam keadaan sakit, dalam keadaan penuh goresan yang dibuat olehmu atau keadaan. Boleh jadi, kebencianku bukan karena luka darimu, boleh jadi karena kehadiranmu atau ketidakhadiran yang lainnya. Boleh jadi benar, boleh jadi salah. Boleh jadi terang, boleh jadi redup. Boleh jadi baru, boleh jadi usang.

 

Hati-hati membaca hati, sebagaimana kamu harus membacanya dengan hati. Beritahu aku bagaimana kamu membaca tulisan ini pada saat kau pertama kali membacanya, lalu dua, tiga dan seterusnya setelah terlewati babak baru dalam hidupmu, apakah akan berubah?

Senin, 28 Februari 2022

Terjerembab

Terjerembab (24 Tahun)

 

Lika-liku kehidupan yang seringkali mengundang tanya. Ada apa? Mengapa seperti ini? Mengapa aku? Mengapa harus aku? Apakah tidak ada alasan yang lebih baik daripada ini?

 

Ini tulisan pertama setelah mama meninggal yah.. Iya. Fokusku sejak kemarin adalah mengumpulkan kepingan hati yang hancur. Hati yang dengan sombongnya aku bilang dahulu dihancurkan oleh kerasnya mama, ternyata kemarin hanya retak saja.

 

Setiap hari berpikir, lebih baik ribut, saling membelakangi, tetapi saling tanya diam-diam. Lebih baik saling ketus, enggan berbicara, tetapi diam-diam saling rindu. Lebih baik sakit karena diatur, diamarahi karena memang aku yang sangat keras ini sering melakukan kesalahan daripada sakit karena menahan rindu, menahan tangis, menahan perih.

 

Ma… anak perempuan yang sering membuat mama sedih. Seringkali membuat mama patah hati ini hanya bisa menyesal. Terjerembab dalam jurang yang dalam tanpa bisa naik lagi. Maaf karena aku yang terlalu naif, berpikir mama akan hidup sampai akhir hidupku. Aku yang berpikir bahwa mama yang akan merindukanku bila aku tak ada. Aku yang berpikir mama akan melihatku lulus, menikah, dan menggenggam tanganku dengan erat saat aku melahirkan. Aku yang berpikir akan terus-terusan meninta maaf di momen itu, sekarang hanya bisa menangis dalam gelapnya malam.

 

Ma, kalau mama yang disini, semua akan baik. Persetan dengan orang yang bilang tidak terlalu sedih karena mama sering bekerja di luar kota. Kepergian mama benar-benar mematahkan hati kami semua.

 

Ma, bukankah kita baru saja membaik setahun belakangan ini? Bukankah baru akhir-akhir ini aku bisa jujur sama mama, bilang aku sayang mama. Bilang maaf. Memeluk mama lebih dulu. Pergi ke kamar mama jika ada kesulitan. Meminta mama untuk mencari psikolog untuk kebiasaan burukku. Curhat sama mama soal laki-laki. Minta saran mama soal kehidupan. Dengerin cerita mama tentang banyak hal.

 

Ma….. kita baru saja dekat. Lebih tepatnya aku baru saja memberanikan diri membuka pintuku, ma. Membuka diri. Kenapa mama memilih meninggalkan kami semua?

 

Ma…. Bila ada cara untuk menukar mama denganku yang selalu memberatkan orang lain. Andai saja ada caranya ma. Disini papa sering menangis sendirian, aa dan kak ulfah yang juga merasakan hal yang sama. Fadhel yang kesulitan mengekspresikan sakitnya hingga jatuh sakit, Bintan yang menunjukan gejala stres pasca ditinggalkan, nenek yang berusaha menguatkan kami semua padahal hatinya amat sangat hancur.

 

Maaa, maafin ya ma. Gara-gara teteh mama pergi. Gara-gara teteh sakit, mama tertular. Maaf ma. Maafin ya ma.

Kamis, 28 Januari 2021

Aku "Aku" Alter Ego

 Aku "Aku" Alter Ego (23 Tahun 7 Bulan 2 Minggu)

 

Si aku berdiri diujung gang, meminta-minta dengan mata tertutup. Bukan karena tunanetra, hanya sedang berusaha percaya pada apa yang akan menggenggamnya. Akankah uluran tangan yang datang dari para kucing-kucing jalanan ataukah tamparan dari si bengis pesakitan?

 

Entah, tanganku terasa dingin. Sesuatu seakan mencengkram lebih jauh. Terasa tajam, kelam, penuh amarah. Ah, ku yakin si bengis pesakitan. Aku masih tidak juga membuka mata. Dinginku bukan karena suhu yang masuk melainkan suhu yang keluar. Semakin lama semakin kesulitan. Tubuh kaku yang tak lagi berpeluh ini pun seakan dipatahkan. Krek! Satu! Krek! Dua! Krek! Krek! Krek! Krek! Kr.... semakin hilang. Sedang yang aku punya menjadi tiga kali lebih banyak dan tiga kali lebih kecil.

 

Si bengis pesakitan terus memakanku. Seakan-akan aku ini adalah makanannya. Apa benar aku makanannya ataukah aku yang harus memakannya. Bertahan hidup ternyata sesulit ini ya? Makan atau dimakan. Sakit atau disakiti. Tinggal atau ditinggalkan. Benci atau dibenci. Ahh.. Aku hampir habis. Bagaimana bisa aku hidup hanya dengan 316 sisa kecil-kecil? Kurcaci? Tidak-tidak, sepertinya aku harus membuka mata. Apa? Apa aku salah lihat? Kenapa? Kenapa aku salah?

 

Kucing-kucing jalanan yang telah memakanku. Kemana si bengis pesakitan? Bukankah dia yang memakanku? Bagaimana bisa? Wajah kecil, berjalan dalam nada lirih, melangkah satu dua satu dua, menilik ke kanan dan ke kiri, kuku-kuku yang berselindung, bagaimana bisa? Ada apa? Rasanya ingin berteriak. Aku ingin bertanya, tapi hanya mata yang disisakannya. Ku tajamkan mataku, memusat pada dua cermin lain. Ku tengok matanya pedih, mulutnya terus mengunyah seraya air terjun dua cermin lain. Semua melakukan hal sama kecuali si hitam. Tatapnya kosong, beberapakali memasang wajah nanar. Wajah itu? Ada apa? Ba-bagaimana bisa?

 

Kami tertangkap mata, saling berpandangan. Dengan menahan sakit, aku bertanya dengan mataku. Si hitam hanya menggeleng dan mengeong lirih. “Maaf, kami kelaparan.” Dengan meringis aku hanya tersenyum? Senyum? Sebatas pikirku, tidak ada yang terukir. Sudah hilang. Sudah termakan.

 

Aku tak lihat si putih. Kucing liar yang penuh suka cita. Tidak ada yang tidak menyukainya. Bahkan seakan takdir bahwa ia terlahir untuk dicintai dan disayangi. Kemana dia? Jika ada dia, aku yakin ini tidak akan terjadi. Terasa sangat aneh karena biasanya ia yang membawa si hitam, si coklat, dan si oren. Tunggu!! Berapa banyak kucing-kucing jalanan yang memakanku?  Tiga!? Tunggu! Abu? Sejak kapan ada kucing abu!? Si abu ini rasanya familiar. Aku kenal matanya yang bersinar itu, tapi aku tak kenal warnanya. Buntutnya kenapa!? Kenapa berwarna merah seperti si bengis pesakitan?

 

Mungkinkah terjadi sesuatu? Aku kembali bertanya dengan sisa satu mataku. Si hitam mengerti, tertunduk dan seakan bergumam.

 

“Mereka bertemu dalam perjalanan menemuimu. Kami berempat tersesat dan kehausan. Sedang si bengis pesakitan yang dengan mudah mendapat semua itu memberi kami bantuan untuk menjawab panggilanmu. Hanya saja, si bengis pesakitan tidak ingin memberikan semua cuma-cuma. Ia memberi pilihan kepada kami, kami bisa aja minum dan bertemu denganmu segera dengan syarat salah satu dari kami harus menjadi wadah barunya.”

 

“Entah apakah sudah seputus asa itu si putih menyerahkan diri. Seketika si bengis pesakitan masuk dan mengeluarkan setengah dari ruh si putih. Apa kau bisa lihat? Aku masih berusaha membopongnya diatas punggungku.”

 

Setengah bola mataku menatap lebih dalam. Ya, aku melihat si putih yang terus-terusan minta maaf. Apa ini akhir dari semuanya? Jalanku sudah usai.

 

“BELUUUM!.” Jawab si bengis pesakitan. “LIHATLAH BAIK-BAIK, KAU TIDAK PERLU LAGI BANTUAN KAMI. KAU SUDAH SEPERTI KAMI. KAU BANGSAT TAPI RAPUH. KAU TERSENYUM TAPI MEMBENCI. KAU BERSIH TAPI BERBINTIK. TERIMALAH TUBUH BARUMU.”

 

Mendengar semua itu aku terdiam. Ku tatap tubuhku dari ujung kaki sampai ujung rambutku. “Eh!?” aku kebingungan. Bukankah seharusnya aku hilang?

 

Ah... aku tau. Menjadi munafik, ya?

Selasa, 19 Januari 2021

36 Kata Baik

Selasa, 19 Januari 2021 (23 Tahun 7 Bulan 5 Hari)


36 Kata Baik

 

Ku mohon untuk tetap baik-baik saja. Sebagaimana hujan yang terus menusuk. Sebagaimana angin yang terus menghempas. Sebagaimana ombak yang terus menggulung. Sebagaimana petir yang terus menyambar. Sebagaimana matahari yang terus menyengat.

 

KAU HARUS BAIK-BAIK SAJA

 

Baik aku sebagai aku, baik aku sebagai kamu, baik aku sebagai dia, baik aku sebagai mereka.

Harus baik, harus selalu baik. Meskipun sakit yang tak berujung ini kian parah. Bahkan luka tak kunjung memberi masa untuk pulih dan beristirahat. Ku mohon untuk tetap baik.

 

Baik dalam keadaan dekat, baik dalam keadaan jauh. Baik dalam keadaan satu tuju, baik dalam keadaan berlawanan. Baik dalam keadaan besar, baik dalam keadaan kecil. Baik dalam keadaan luas, baik dalam keadaan sempit. Baik dalam keadaan sama, baik dalam keadaan berbeda.

 

Jangan menangis, ku mohon jangan menangis. Tolong simpan air mata untuk hal yang bahagia. Tolong simpan permohonan untuk mengampun kepada Tuhan. Tolong simpan rengekan untuk seseorang yang tepat dan menerima. Sesungguhnya semua berada dalam lingkup layak bagi yang seharusnya. Berhenti berpikir yang tidak baik. Baik sekejap. Baik semenit. Baik sejam. Baik sehari. Baik semalam. Baik seminggu. Baik sebulan. Baik setahun bahkan selamanya.

 

Tolong jangan terluka lagi, luka lama masih belum kering. Tolong jangan terluka lagi, masa kuat sudah diujung tanduk. Tolong jangan terluka lagi, semakin membesar koyakanmu.

 

Bagaimana caranya?

 

Berhenti berharap. Berhenti berharap ya! Tanpa ada harapan tak akan terluka lagi. Tanpa adanya harapan takkan kecewa lagi. Tanpa adanya harapan takkan ada lagi masa luruh luka dan larut dalam air mata.

 

Tersenyumlah sebagaimana pernah melakukannya. Dulu. Dimasa lalu. Dimasa yang sudah lewat. Sudah lampau. Sudah berlama-lama-lama-lama-lama sekali. Setidaknya ingat sedikit garisnya. Ingat sedikit bentuknya. Berkacalah! Iya baik. Kau melakukan dengan baik. Coba lebih lebar lagi. Iya lebih lebar lagi. Tidak-tidak kau salah, tidak dengan air mata. Tidak-tidak bukan seperti itu. Matamu. Senyum matamu mana? Jangan, ku mohon jangan lakukan lagi. Kau seram. Kau. Kau. Kau.

 

“KAU HARUS BAIK-BAIK SAJA.”

Selasa, 14 April 2020

Sebuah Sajak Untukmu


Ketika hati memilih untuk diam, biarkan lagu yang bercerita dan mulai bicara
Ketika kamu tengah digadang-gadang sebagai yang pertama, namun ternyata kau sebatas juara kedua
Ketika kamu terpuruk dalam satu masa, ingatlah seseorag yang takkan kemana
Biarkan kau diam, dalam rindu dan sepi.. ya?
Nadir?

Biarkan kalimat-kalimat ini menjadi pengingat
Biarkan kalimat ini menjadi kunci jika satu masa kau menjadi lupa
Biarkan kalimat ini menjadi caramu menemukan tempatmu pulang
Biarkan kalimat ini menjadi arah disaat kebencian menyelimutimu

Tolong baca perlahan sampai kau tertidur
Baca perlahan dan bayangkan tiap-tiap momentum
Setengah tiga, lalu ayah terbangun
Setengah empat, lalu ayah terbangun
Panggilan shalat

“Dering ponselmu membuatku tersenyum di malam hari.”
 “Kau bercerita kau akan berhenti membahagiakan.”
Sudah ingat?
Itu cukup, harusnya

Baca perlahan dan semakin dalam bait pertama
Baca satu kata akhir dikalimat pertama
Baca dua kata akhir dikalimat kedua
Baca dua kata akhir dikalimat ketiga
Bait keempat? Selamat tidur

Sudah ingat? Selamat datang kembali
Kau sudah berhasil pulang
Tapi sayang, ketika kau menerima ini
Rasaku punah
Aku sudah tidak lagi dirumah

Jumat, 10 April 2020

2020 YANG SUPER CHAOS!


Jum’at, 10 April 2020 (22 Tahun 10 Bulan 3 Minggu 4 Hari)
Hallo! Apa kabar semuanya? Ini hari ke... 20an karantina ‘stay at home’ atau ‘dirumah aja’ kalo aku gak salah ya setelah Indonesia terkonfirmasi positif Virus Corona tertanggal 1 Maret 2020 bulan lalu. Bahkan sampai saat aku menulis ini saja, masih dalam masa karantina loh. Bisa dibayangkan betapa pusingnya aku? Aku pusing bukan karena dirumah aja, aku emang suka dirumah.. tapi ketika orang lain asik beraktifitas. Bukan seperti sekarang yang jadi ngumpul semuanya. Mama yang biasa kerja jadi keliatan lebih stres daripada hari biasanya. Papa ya, ga ada yang berubah kecuali hari Sabtu dan Minggu yang gabisa sepedaan berkilo-kilo meter. Semua tertahan dirumah dan itu cukup menyesakan buat aku. Aku bukan gak suka kebersamaan, cuma kalau biasanya kami gak saling sapa karena ada kerjaan diluar, sekarang tetap ga saling sapa karena adanya WFH alias Work From Home. Yap! Karena pada sibuk masing-masing. Aku benci kenyataan bahwa kita bersama tapi ga benar-benar bersama. Kita cuma neduh satu tempat aja sih.

Dirumah aja itu hal yang biasa buat aku, biasa banget. Sesuatu yang berbeda karena adanya virus diluar sana, bahkan aku gabisa percaya sama diriku sendiri. Apa aku terjangkit atau tidak, idk, yang jelas aku bener-bener ngerasa capek secara psikis. Tiap mau ke warung aja harus pakai masker sedangkan aku ke kampus yang jaraknya hampir 20km jarang banget pake masker. Jadi keadaan ini bikin aku yang tergolong introvert cukup stres, apalagi yang ekstrovert ya?

Oke, 2020. Tertanggal 1 Januari 2020, kita mulai dari awal tahun baru yang suram ya menurut aku. Hujan besar melanda dari sore 31 Desember 2019. Jujur, aku happy sih. Jadi ga ada yang main petasan, ga ada yang ngeberisikin rumah dengan terompet.. arghh enough. Ngebayanginnya aja sakit kepala. Aku udah ngebayangin, bantal dingin dan tidur nyenyak hari itu. Sayang seribu sayang, hujannya deres banget. Aku bahkan takut jadi gabisa tidur sama sekali. Kalo aku gak salah inget, hujan itu sampe dua apa tiga hari gitu deh. Taulah apa yang terjadi? Yap! Banjir. Dimana-mana. Jakarta? Jangan ditanyalah ya, kalo yang lain banjir apalagi Jakarta. Daerahku ada beberapa yang banjir, alhamdulillah komplek aku ga banjir sama sekali, tapi denger-denger pasar deket rumah banjir (meskipun namanya pasar bukit, tapi ini pasar ada dibawah posisinya wkwk)

Lanjut lagi ya, kita beranjak ke bulan Febuari. Yeay! Febuari plis be nice! Tidak terkabul hahahahhaa. Sangat tidak nice. Pergantian semester dan aku gagal lagi lulus semester tersebut. Sedih? Iyalah. Kecewa? Banget. Tapi emang ada yang ngerti? Enggaklah. Semua punya kesibukan masing-masing dong tentunya. Aku juga ga menuntut siapapun buat mengerti, aku cuma mau semuanya saling paham ajalah ya. Aku belum lulus bukan karena aku ga mau, mana ada si yang cinta banget sama kampus yang ga di harapin, hehe. Ga ada. Rasanya pengen cepet-cepet keluar aja, cuma ya gimana kan ya? Orang si pada nyemangatinnya dengan bilang, “belom giliran kamu.” Hello!! Giliranku kayaknya belakangan mulu ya astaga. Tunggu, belom selesai kepedihan aku ternyata HAHAHAHAHA.

Kecelakaan! Duar! Ancur mobil bagian depan sampe segala macemlah harus diperbaiki. Semua karena apa? Karena rem blong wkwkwk. Ga paham lagi. Di otak aku saat itu terjadi cuma satu, “Aku mau mati, tapi gamau mati kecelakaan.” Gatau kenapa kayak gamau aja. Cara mati yang paling aku tolak kalo boleh milih ya kecelakaan. Jujur aja, saat itu terjadi aku pasrah, udah gatau harus gimana. Nabrak depan, belakang ditabrak. Udah kayak ga ada harapan lagi. Dalam hati cuma minta, selamatin yang lain aja, aku gapapa. Ternyata Allah berkehendak lain, kita semua selamat dan mobil rusak parahh.. taraa!

Pengen lanjut ke Maret, baru inget Februari belom usai. Kakiku, terkilir, gegara latihan dance breaknya Super Junior yang Mr. Simple, namanya doang simple, tapi dancenya enggak. Aku orang indo, terkilir mah yauda biarin ntar sembuh. Aku pakein koyo atau penghangat lainnya lah saat itu meskipun sakitnya bangetan wkwkw. Seminggu kemudian, ibu jari kaki kananku yang terkilir dengan semangatnya nabrak keramik retak pecah gitulah. Nusuk gitu. Jangan ditanya lagi ngapain ya, tentu latihan dance dong! Bodohnya, aku pikir itu elah luka dikit lanjut lagi dance eh dia ngocor astagaaaaa.. yaudah. Aku. Berhenti. Nahan nangis. Malu. Hehe. Ujungnya nangis. Terus mikir mati gegara ini, bisa gaksi? Idk. Wkwkwk. Oiya di bulan ini juga aku di block deh kalo ga salah. Padahal gatau apa-apaan astaga. Ganggu dia ge engga subhanallah. Sedih tapi yaudin ya kan? Kita ga pernah pacaran, tapi saling ngungkapin. Dia duluan sumpah yang ngungkapin, seharusnya waktu itu aku ga iya iya aja ya, kan jadi kehilangan teman. Padahal kalo aku ga salah inget kita udah hampir temenan dua tahun loh, eh selesai gegara masalah hati. Ckckck.

Oke, lanjut ke bulan Maret. NO NO MALES BAHAS HAHAHAHHAHA UDAH DI BAHAS DI ATAS. Ga ada yang bisa di bahas selain Depok, Suspect, Corona! Dah itu aja tiap hari dibikin sesek gegara liat data meninggal akibat corona. Terus jujur ya, dari yang shock nambah satu dua orang, sampe sekarang nambah seharinya bisa puluhan apa ya, jadi kayak.. “oh segitu ya.” Bukan ngeremehin apa gimana, Cuma batin sakit banget tapi gabisa apa-apa. Apa ya, terbiasa disakiti jadi ga bisa ngerasain sakit lagi. Sakit banget kan liat berita yang meninggal, terus itu jadi sehari-hari terus berulang. Gitu. huhu.. aku harap jiwa kita semua aman dan baik-baik saja ya.

Ada sedikit kebanggaan dibulan ini. Jadi dulu pas SMP, pertama kali tau cinta, tau persahabatan dan langsung disakitin dalam waktu bersamaan, aku mendadak punya kebiasaan mengalihkan rasa sakit gitu. Sakit psikis kayak sedih gitu yang bikin aku gabisa ngapa-ngapain, maag, dan lain hal sebagainya aku alihkan ke cutting. Beberapa dari kalian mungkin tau cutting apa, dan itu amat sangat tidak baik ok! Aku hanya sharing, alasan aku cutting adalah aku ga bisa mempercayai orang-orang lagi semenjak dilukai secara bersamaan begitu. Pikirku gini, kalo tanganku luka, sakit kan? Jadi psikisku akan fokus mengobati sakit fisikku, sampe akhirnya lupa kalo aku habis disakiti orang lain. Awalnya banget, aku mau bunuh diri,.. tapi takut, jadi aku sayatin agak minggir dan ternyata itu namanya cutting. SMA pun aku ngelakuin ini, dan mantanku tau. Dia kasih support ke aku, dia kasih kekuatan baru ke aku dan taraaaa. Aku tidak pernah melakukannya lagi selama kurang lebih 5 tahun (ketauan sama dia di tahun pertama kami pacaran). Ehhh malah aku lakuin lagi di bulan Maret ini wkwkw dasar dodol.

Mungkin beberapa kalian bingung, tapi aku saranin jangan pernah ngelakuin ini. Ini menyakitkan dan berbekas cukup lama. Mending cari temen cerita, dan berusaha percaya sama seseorang. Minimal ibu kalian, oke!?

Terus, aku sadar. Ini salah, dan ini gaboleh. Akhirnya aku beraniin diri cerita ke mama, awalnya mama kaget, bingung, akhirnya di panggil semua adik kakak aku, disuruh cari psikolog gitu sedangkan aku yang mahasiswa psikolog juga bingung. Saat itu, aku cuma minta sama mama buat jangan biarin aku sendirian, dan semua menyanggupi. Sejak saat itu, lambat laun lebih stabil hehhe. Tapi pas ada berita harus dirumahkan semua orang, kepalaku sakut lagi, dan sesekali mau melakukan itu tapi aku tahan. Jadi tiap aku mau ngelakuin cutting, aku langsung ke kamar dengerin lagu pake headset, atau belajar chord gitar atau tab bass atau apapun yang bisa membuat aku merasa lebih baik.

Badanku sakit, bb ku naik lagi. Selesai corona, aku mau sepedaan berkilo-kilo meter bodo amat deh pingsan juga:(
Sehat selalu ya kalian!