Jumat, 18 September 2026

Apakah Rasa Bangga Memiliki Usia?

 Jum’at 18 September 2026 (29 Tahun 3 Bulan 4 Hari)

 

Apakah Rasa Bangga Memiliki Usia?

 

Tulisan ini terbentuk karena sebuah kejadian, beberapa malam sebelumnya. Malam yang tak ku sangka menjadi pikir panjangku hingga siang ini. Kejadian bermula saat aku tengah bermain sebuah game. Sebut saja game perang bocil, karena pemain dari game ini jauh lebih banyak dari kalangan yang bukan di usiaku ini. Pada permainan ini, terdapat beberapa klasifikasi layaknya permainan-permainan online kebanyakan. Seperti tier (tingkat pencapaian permainan), mulai dari Bronze, Gold, Platinum, Heroic, sampai Master; ada pula level akun yang menandakan berapa lama akun dimainkan, usia akun (tahun berapa dibuat), kepemilikan skin seperti pakaian, karakter dan lain-lain. Selain itu, ada pula klasifikasi lain seperti penggunaan senjata pada permainan tersebut. Seperti AK47, Scar, M4A1, VSS, MP5 dan lain sebagainya. Sebagaimana pemain lain, ada senjata yang menjadi favoritku selain AK47, yaitu VSS. Setiap senjata yang digunakan akan memberikan poin pada senjata itu sendiri, jadi semakin sering aku menggunakan sebuah senjata, maka akan semakin tinggi poin senjata tersebut. Selain itu, semakin sering digunakan untuk kill musuh dengan senjata tersebut ada poin tersendiri.

 

Singkat cerita, aku mendapatkan peringkat 56 pada penggunaan VSS se-Banten. IYA, se-Banten. Kalau sekota ku, aku masuk peringkat 5. Pada awalnya aku hanya melihat itu sebagai sesuatu yang cukup wah, tapi tidak sampai tahap bangga. Sampai beberapa malam lalu, aku bermain dengan temanku dan bilang seperti ini.

 

 

“Wih, ka Noy! Top global VSS nih ceritanya.”

 

Aku hanya tertawa, karena status top global setahuku untuk tingkatan se-Indonesia, bukan se-Provinsi.

 

“Gila sih ka Noy, kejar peringkat 1 Banten ka!”

 

Aku tertawa sekali lagi, tapi kali ini ada perasaan yang aneh. Aku menjadi bangga. “Oh ternyata aku bisa ya.” Gumamku. Temanku terus mengoceh dan meledekku dengan title ‘Banten 56 VSS’ ke orang random. Teman game ku ini memang usianya dibawahku, jadi banyak hal kecil yang membuat dia terpukau.. atau hanya meledek? Entahlah.

 

“Kalo ada VSS, kasih ke ka Noy ya, bang. Dia jago VSSnya.” Katanya serius kepada orang random yang menjadi satu tim kami. Aku kembali tertawa, tak bisa menjawab apapun yang dikatakan oleh temanku. Hanya bisa tertawa.. yang semakin lama terasa semakin nanar.

 

Pertanyaanku hanya satu, “Apa boleh aku bangga atas pencapaian kecil pada sebuah game? Atau apakah aku boleh menyebut ini sebagai pencapaian kecil?”

 

Kepalaku memutar berbagai hal, yang paling terikat adalah usia. Apakah rasa bangga memiliki usia? Apakah kategori bangga terhadap sesuatu tergantung pada usia berapa kamu merasakannya? Aku berdiam setelah permainan itu. Kepalaku penuh dengan pertanyaan yang sebenarnya terlintas begitu saja hanya karena ‘Banten 56 VSS’. Aku merasa mulai khawatir dan bingung. Bukankah titik seperti ini tidak bisa ku banggakan di usiaku yang menjelang 30 ini? Bukankah ini adalah bangganya anak-anak usia dibawah 20 tahun? Apa boleh aku sedikit bangga?

 

Kemudian aku menarik garis lagi. Kembali berfokus pada usiaku yang ke 29 tahun ini. Aku mulai mencari-cari;

 

PENCAPAIAN SEPERTI APA YANG SEHARUSNYA DI DAPATKAN OLEH WANITA 29 TAHUN?

 

Karier dan Finansial yang lebih stabil, itu hal normal yang dibanggakan oleh Wanita berusia 29 tahun. Pada usia ini, kebanyakan dari mereka sudah berada pada Tingkat mid-level, spesialis, atau bahkan mulai masuk posisi manajerial. Pada level ini, tak jarang juga kita melihat mereka dengan papan nama yang bertuliskan Senior Associate, Senior xxxx, pokoknya dengan kata depan Senior. Belum lagi kebanyakan orang pada usia ini berada pada tingkatan ahli khusus. Bukankah seperti itu normalnya?

 

Mandiri secara finansial, ya begitulah. Sudah memiliki barang dengan sertifikat atas nama sendiri, mungkin punya motor, ponsel flagship dan lainnya. Memiliki tagihan yang dibayarkan oleh diri sendiri adalah bagian dari mandiri secara finansial, bukan?

 

Pada usia ini juga banyak dari mereka yang sudah memasuki tahap yang lebih serius. Pacaran, lamaran, pertunangan sampai pada titik pernikahan sudah tidak aneh lagi. Tak jarang juga mulai terlihat wanita-wanita yang sudah menjadi istri dan ibu dari anaknya. Terbayangkan?

 

Meskipun konotasi ‘normal’ relatif, meskipun tiap orang memiliki masa dan waktunya sendiri.. namun hal yang menjadi normal di orang lain seringkali menempel pada diri sendiri bukan?

 

Berhari-hari aku berdiam, tak membahas ini dengan siapapun. Hanya aku jadikan lamunan malam saja. Kadang berubah jadi suara payau, berubah jadi nyanyian, tak jarang juga berubah jadi tangisan.

 

Jadi, apakah menjadi bangga memiliki usia?