Kamis, 22 Oktober 2026

Tumpah Ruah

Tumpah Ruah (29 Tahun, 4 Bulan, 1 Minggu, 1 Hari)

Kepada malam "sunyiku" yang tak kunjung benderang. Selayaknya malam, bahkan biaspun tak dapat kau bentuk. Suara malam yang menderu itu tak bisa menghentikan kekacauan dibalik laju darah kepalaku. Mereka sibuk memilah, memilih, menusuk, menghujani, menghentikan tiap-tiap cahaya dan harapan. Semua yang baik itu, justru kian memburuk. Bagian-bagian yang tak terurus, kaki tangan compang-camping. Memutuskan keramaian lain, menciptakan kekacauan lain, agar gemuruh yang tak diundang ini segera menepi.

Kepada pagi "ramaiku" yang tak kunjung menggelap. Selayaknya pagi, lambat laun cahaya membentuk biasmu. Hiruk-pikuk kota menjadi harapan baru, cahaya baru, angan baru, keinginan baru. Namun apa titik gelap itu? Satu titik yang menekan, merusak, merobek keimanan. Tak terlihat mata, tak teraba kulit, tak nyaman dipikirkan namun terus berkeliaran. Ia tertanam di hati. Berkembang menjadi koloni. Hidup dan menggerogoti. Meminta "wadah". Menjadi wadah. Apa itu iman?

Kepada wajah "ceriamu" yang tak kunjung menangis. Selayaknya wajah yang terbiasa tampil tanpa henti. Tertawa, cukup, adil, bahagia, menjadikan diri sebagai sandaran terkuat. Dinding kuat itu benar-benar membantu, tapi tidak kepada induk. Gulungan kata yang terangkai, imbas dari jiwa yang tak selamat. Berdiam, memaksa diri, meminta hilang, dan tak terkendali. Induk tak mengenali diri. Induk kepayahan mencari arti. Induk tak bisa berdiri, bahkan di kakinya sendiri.

Kekacauan yang tak pantas dirayakan. Nirdaya untuk sekedar bangun. Alam tak pernah berteriak saat dipijak, lantas mengapa keserakahan menggerogotimu?

Tuan-puan, bolehkah sedikit saja mengambil bagian hidup baik itu dalam riuh saat ini? Samoai titik mana kata 'egois' dapat terbebas dari keinginan tenggelam dalam kehidupan baik? Baik dan layak, apakah berbatasan? Atau sebebas itu sampai tak temun titik mulanya?

Tuan-puan pengacau, bisakah berhenti berkicau?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar